29 Okt 2012

Psikologi Sosial


Tingkah laku merupakan hasil interaksi individu dan masyarakat yang disebabkan adanya proses sosialisasi (individu-individu saling berinteraksi dalam masyarakat) dan negosiasi (individu-individu yang tidakj komform dengan standar masyarakat menciptakan standar baru yang dapat diterima masyarakat. Manusia berbeda dengan makhluk lainnya karena manusia memiliki akal dan perasaan. Dalam rangka pengembangan masyarakat, Psikologi Sosial memandang manusia sebagai makhluk yang tingkah lakunya dipengaruhi dan mempengaruhi lingkungan sosialnya.
Psikologi berasal dari kata psyche yang berarti jiwa dan logos yang berarti ilmu. Focus utama Psikologi Sosial adalah pada pemahaman mengenai bagaimana dan mengapa individu berperilaku, berpikir, dan memiliki perasaan tertentu dalam konteks situasi social. Yang dimaksud dengan situasi social adalah kehadiran orang lain secara nyata maupun secara imajinasi. Berikut beberapa definisi Psikologi Sosial dari berbagai ahli yang berbeda:
  • Sherif & Muzler, 1958: Psikologi Sosial adalah ilmu tentang pengalaman dan perilaku individu dalam kaitannya dengan situasi stimulus social.
  • Dewey & Huber, 1966: Psikologi social adalah study tentang manusia individual ketika ia berinteraksi, biasanya secara simbolik dengan lingkungannya.
  • Shaw & Constanzo, 1970: Psikologi Sosial adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari perilaku individual sebagaifungsi rangsang-rangsang social.
  • Smith & Mackie, 2000: Social psychology is the scientific study of social and cognitive processes on the way individuals perceive, influence and relate to others.
  • Baron & Byrne, 2004: Psikologi Sosial adalah cabang ilmu pengetahuan yang berusaha untuk memahami asal-usul dan penyebab dari tingkah laku dan pemikiran individu pada konteks situasi social.
Psikologi Sosial adalah ilmu pengetahuan  yang mana memiliki nilai-nilai dan metode-metode yang digunakan oleh bidang ilmu pengetahuan lain. Nilai-nilai dasar yang harus dipenuhi semua bidang agar dapat dikatakan sebagai ilmu pengetahuan:
  • Akurasi: teliti, tepat, bebas dari kesalahan.
  • Obyektivitas: bebas dari bias.
  • Skeptisme: menerima hanya bila telah diverifikasi.
  • Berpikiran terbuka: mengubah pandangan bila terbukti tidak benar.
Psikologi Sosial berbeda dengan sosiologi. Psikologi Sosial fokusnya pada individu yaitu mempelajari perilaku dan pemikiran individu sementara Sosiologi focus pada kelompok-kelompok besar atau masyarakat sebagai suatu keutuhan. Contohnya: dalam suatu kasus KDRT, Psikologi Sosial akan focus pada penyebab orang-orang tertentu melakukan KDRT, sedangkan Sosiologi akan melihat perbandingan angka KDRT pada berbagai lapisan dalam kelompok masyarakat.
Seorang Psikologi Sosial terutama tertarik untuk memahami berbagai factor dan kondisi yang membentuk perilaku social dan pemikiran social pada individu tentang orang lain. Ada setidaknya 5 faktor penyebab dari perilaku social dan pemikiran social:
  1. Perilaku dan karakter orang lain. Kita sering secara kuat dipengaruhi oleh perilaku orang lain dan juga seringkali dipengaruhi oleh penampilan orang lain. Contoh: perlakuan yang berbeda antara orang tua dan anak kecil.
  2. Proses-proses kognitif. Proses-proses kognit memainkan peran penting dalam perilaku dan pemikiran social. Untuk memahami perilaku manusia dalam situasi social, kita harus memahami pikiran mereka tentang situasi tersebut, atau biasa disebut oleh para psikolog social dengan construals (pemahaman). Contoh: Andi yang biasanya kita ketahui selalu tepat waktu, bila pada suatu pertemuan yang dijanjikan dia datang terlambat, maka kita bisa menerima alasannya karena tahu bahwa dia tidak biasanya datang terlambat. Bda dengan Roy yang memang selalu ngaret, kita akan emosi bila dia datang terlambat.
  3. Variabel-variabel lingkungan: Pengaruh dari lingkungan fisik. Lingkungan fisik berpengaruh terhadap perasaan, pikiran, dan perilaku kita sehingga variable ekologis juga menjadi bahasan dalam psikologi social modern. Contoh: manusia menjadi lebih cepat marah dalam cuaca yang panas.
  4. Konteks Budaya. Perilaku social seringkali sangat dipengaruhi oleh norma-norma social (aturan social mengenai bagaimana manusia seharusnya berperilaku dalam situasi tertentu), keanggotaan dalam berbagai kelompok, dan perubahan nilai-nilai social. Contoh: di Mauritania wanita yang cantik adalah wanita yang bertubuh gemuk. Makin gemuk wanita itu, makin cantik dia. Sementara di Barat, wanita cantik dinilai melalui tubuhnya yang proporsional (seperti model-model yang tubuhnya kurus-kurus).
  5. Factor-faktor biologis. Pilihan, perilaku, emosi, atau bahkan sikap sampai batas tertentu dipengaruhi oleh bawaan biologis (Buss, 1999; Nisbet, 1990). Pandangan bahwa factor biologis memainkan peran penting dalam perilaku social datang dari bidang Psikologi Evolusioner (evolutionary psychology) yang menyatakan bahwa manusia, seperti makhluk lainnya telah mengalami proses evolusi biologis, dan hasil dari proses ini adalah kita sekarang memiliki sejumlah besar mekanisme psikologis yang merupakan hasil evolusi (evolved psychology mechanism) yang membantu kita untuk tetap hidup atau mempertahankan keberadaan kita. Proses evolusi melibatkan 3 komponen dasar, yaitu: variasi (tiap individu berbeda satu sama lainnya), factor bawaan (ada variasi yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya) dam factor seleksi. Contoh: laki-laki pada jaman dulu bertubuh besar-besar karena tugas mereka yang mengharuskan mereka berkerja keras, lalu sekarang tubuh laki-laki semakin kecil karena pekerjaannya semakin ringan, factor genetic tubuh kecil ini lalu diturunkan ke anaknya.
Ada dua pendekatan perspektif dalam psikologi social yang menyangkut tingkah laku manusia:
  1. Psychological Social Psychology (PSP)
    • Behavioral perspective, dalam perspektif ini stimulus yang ada langsung diterima oleh manusia tanpa ada proses belajar. Teori-teori dalam perspektif ini: Operant Behavior And Reinforcement; Social Learning Theory; Social Exchange Theory.
    • Cognitive perspective, dalam perspektif ini ada kegiatan kognitif yaitu proses berpikir manusia yang kemudian membentuk skema. Teori-teori dalam perspektif ini: Field Theory/Life Space; Contemporary Cognitive Theory.
    2. Sociological Social Psychology (SSP)
    • Structural perspective, orang melakukan perilaku-perilaku tertentu karena struktur masyarakat yang menuntutnya melakukan perilaku itu. Teori-teori dalam perspektif ini: Role Theory; Postmodernism
    • Interactionist Perspective, meskipun mengetahui standar masyarakat tidak berarti ia akan menampilkan tingkah laku yang comfort dengan standar tersebut. Teori-teori dalam perspektif ini: Symbolic Interaction Theory; Identity Theory.
Metode Penelitian dalam Psikologi Sosial
  1. Observasi Sistematis, yaitu  mengamati secara hati-hati perilaku yang ada dilengkapi dengan pengukuran yang akurat dan teliti. Ada 2 teknik dalam observasi sitematis, yaitu: a) observasi alamiah (naturalistic observation), yaitu observasi terhadap perilaku dalam situasi alami (Linden, 2000). Dalam teknik ini, peneliti tidak boleh mempengaruhi orang yang diteliti, sehingga peneliti berupaya agar orang-orang yang diamatinya tidak memperhatikan keberadaan peneliti. Contoh: penelitian Brandon mengenai pengaruh suhu udara terhadap perilaku membunyikan klakson. Brandoon mengamatinya dengan bersembunyi di balik semak-semak dan menghitung bunyi klakson beberapa detik setelah lampu hijau menyala. b) Metode survey, yaitu metode penelitian di mana peneliti meminta sejumlah besar partisipan untuk merespon pertanyaan-pertanyaan tentang sikap atau perilaku mereka. Metode ini digunakan untuk mengukur sikap mengenai isu-isu social.Syarat survey: orang-orang yang berpartisipasi harus mewakili populasi yang lebih besar; pertanyaan-pertanyaan disusun ke dalam kalimat akan berpengaruh pada hasil yang didapat. Metode ini berguna untuk mempelajari aspek-aspek dari perilaku social, namun hasil yang diperoleh baru bisa akurat bila isu mengenai sampling dan perumusan pertanyaan diperhatikan secara hati-hati.
  2. Metode Korelasi, yaitu peneliti mencoba untuk menentukan apakah, dan seberapa jauh, variable-variabel yang berbeda berhubungan satu sama lain dengan mengadakan observasi yang hati-hati terhadap masing-masing variable, kemudian melaksanakan uji statistic yang tepat untuk menentukan apakah dan seberapa jauh variable-variabel tersebut berkorelasi. Metode ini dapat digunakan dalam berbagai situasi natural dan seringkali sangat efisien (sejumlah informasi dapat diperoleh dalam waktu yang relative singkat). Namun, hal tersebut tidak dapat dijadikan hubungan sebab-akibat yang merupakan kelemahan metode ini.
  3. Metode eksperimen, yaitu sebuah metode di mana satu factor atau lebih (variable bebas) diubah secara sistematis untuk menentukan apakah suatu variable mempengaruhi satu atau lebih factor yang lain (variable terikat). Contoh: penelitian mengenai pengaruh jabat tangan terhadap persepsi orang lain mengenai orang yang diajak berjabat tangan tersebut.

0 komentar:

Posting Komentar

29 Okt 2012

Psikologi Sosial


Tingkah laku merupakan hasil interaksi individu dan masyarakat yang disebabkan adanya proses sosialisasi (individu-individu saling berinteraksi dalam masyarakat) dan negosiasi (individu-individu yang tidakj komform dengan standar masyarakat menciptakan standar baru yang dapat diterima masyarakat. Manusia berbeda dengan makhluk lainnya karena manusia memiliki akal dan perasaan. Dalam rangka pengembangan masyarakat, Psikologi Sosial memandang manusia sebagai makhluk yang tingkah lakunya dipengaruhi dan mempengaruhi lingkungan sosialnya.
Psikologi berasal dari kata psyche yang berarti jiwa dan logos yang berarti ilmu. Focus utama Psikologi Sosial adalah pada pemahaman mengenai bagaimana dan mengapa individu berperilaku, berpikir, dan memiliki perasaan tertentu dalam konteks situasi social. Yang dimaksud dengan situasi social adalah kehadiran orang lain secara nyata maupun secara imajinasi. Berikut beberapa definisi Psikologi Sosial dari berbagai ahli yang berbeda:
  • Sherif & Muzler, 1958: Psikologi Sosial adalah ilmu tentang pengalaman dan perilaku individu dalam kaitannya dengan situasi stimulus social.
  • Dewey & Huber, 1966: Psikologi social adalah study tentang manusia individual ketika ia berinteraksi, biasanya secara simbolik dengan lingkungannya.
  • Shaw & Constanzo, 1970: Psikologi Sosial adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari perilaku individual sebagaifungsi rangsang-rangsang social.
  • Smith & Mackie, 2000: Social psychology is the scientific study of social and cognitive processes on the way individuals perceive, influence and relate to others.
  • Baron & Byrne, 2004: Psikologi Sosial adalah cabang ilmu pengetahuan yang berusaha untuk memahami asal-usul dan penyebab dari tingkah laku dan pemikiran individu pada konteks situasi social.
Psikologi Sosial adalah ilmu pengetahuan  yang mana memiliki nilai-nilai dan metode-metode yang digunakan oleh bidang ilmu pengetahuan lain. Nilai-nilai dasar yang harus dipenuhi semua bidang agar dapat dikatakan sebagai ilmu pengetahuan:
  • Akurasi: teliti, tepat, bebas dari kesalahan.
  • Obyektivitas: bebas dari bias.
  • Skeptisme: menerima hanya bila telah diverifikasi.
  • Berpikiran terbuka: mengubah pandangan bila terbukti tidak benar.
Psikologi Sosial berbeda dengan sosiologi. Psikologi Sosial fokusnya pada individu yaitu mempelajari perilaku dan pemikiran individu sementara Sosiologi focus pada kelompok-kelompok besar atau masyarakat sebagai suatu keutuhan. Contohnya: dalam suatu kasus KDRT, Psikologi Sosial akan focus pada penyebab orang-orang tertentu melakukan KDRT, sedangkan Sosiologi akan melihat perbandingan angka KDRT pada berbagai lapisan dalam kelompok masyarakat.
Seorang Psikologi Sosial terutama tertarik untuk memahami berbagai factor dan kondisi yang membentuk perilaku social dan pemikiran social pada individu tentang orang lain. Ada setidaknya 5 faktor penyebab dari perilaku social dan pemikiran social:
  1. Perilaku dan karakter orang lain. Kita sering secara kuat dipengaruhi oleh perilaku orang lain dan juga seringkali dipengaruhi oleh penampilan orang lain. Contoh: perlakuan yang berbeda antara orang tua dan anak kecil.
  2. Proses-proses kognitif. Proses-proses kognit memainkan peran penting dalam perilaku dan pemikiran social. Untuk memahami perilaku manusia dalam situasi social, kita harus memahami pikiran mereka tentang situasi tersebut, atau biasa disebut oleh para psikolog social dengan construals (pemahaman). Contoh: Andi yang biasanya kita ketahui selalu tepat waktu, bila pada suatu pertemuan yang dijanjikan dia datang terlambat, maka kita bisa menerima alasannya karena tahu bahwa dia tidak biasanya datang terlambat. Bda dengan Roy yang memang selalu ngaret, kita akan emosi bila dia datang terlambat.
  3. Variabel-variabel lingkungan: Pengaruh dari lingkungan fisik. Lingkungan fisik berpengaruh terhadap perasaan, pikiran, dan perilaku kita sehingga variable ekologis juga menjadi bahasan dalam psikologi social modern. Contoh: manusia menjadi lebih cepat marah dalam cuaca yang panas.
  4. Konteks Budaya. Perilaku social seringkali sangat dipengaruhi oleh norma-norma social (aturan social mengenai bagaimana manusia seharusnya berperilaku dalam situasi tertentu), keanggotaan dalam berbagai kelompok, dan perubahan nilai-nilai social. Contoh: di Mauritania wanita yang cantik adalah wanita yang bertubuh gemuk. Makin gemuk wanita itu, makin cantik dia. Sementara di Barat, wanita cantik dinilai melalui tubuhnya yang proporsional (seperti model-model yang tubuhnya kurus-kurus).
  5. Factor-faktor biologis. Pilihan, perilaku, emosi, atau bahkan sikap sampai batas tertentu dipengaruhi oleh bawaan biologis (Buss, 1999; Nisbet, 1990). Pandangan bahwa factor biologis memainkan peran penting dalam perilaku social datang dari bidang Psikologi Evolusioner (evolutionary psychology) yang menyatakan bahwa manusia, seperti makhluk lainnya telah mengalami proses evolusi biologis, dan hasil dari proses ini adalah kita sekarang memiliki sejumlah besar mekanisme psikologis yang merupakan hasil evolusi (evolved psychology mechanism) yang membantu kita untuk tetap hidup atau mempertahankan keberadaan kita. Proses evolusi melibatkan 3 komponen dasar, yaitu: variasi (tiap individu berbeda satu sama lainnya), factor bawaan (ada variasi yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya) dam factor seleksi. Contoh: laki-laki pada jaman dulu bertubuh besar-besar karena tugas mereka yang mengharuskan mereka berkerja keras, lalu sekarang tubuh laki-laki semakin kecil karena pekerjaannya semakin ringan, factor genetic tubuh kecil ini lalu diturunkan ke anaknya.
Ada dua pendekatan perspektif dalam psikologi social yang menyangkut tingkah laku manusia:
  1. Psychological Social Psychology (PSP)
    • Behavioral perspective, dalam perspektif ini stimulus yang ada langsung diterima oleh manusia tanpa ada proses belajar. Teori-teori dalam perspektif ini: Operant Behavior And Reinforcement; Social Learning Theory; Social Exchange Theory.
    • Cognitive perspective, dalam perspektif ini ada kegiatan kognitif yaitu proses berpikir manusia yang kemudian membentuk skema. Teori-teori dalam perspektif ini: Field Theory/Life Space; Contemporary Cognitive Theory.
    2. Sociological Social Psychology (SSP)
    • Structural perspective, orang melakukan perilaku-perilaku tertentu karena struktur masyarakat yang menuntutnya melakukan perilaku itu. Teori-teori dalam perspektif ini: Role Theory; Postmodernism
    • Interactionist Perspective, meskipun mengetahui standar masyarakat tidak berarti ia akan menampilkan tingkah laku yang comfort dengan standar tersebut. Teori-teori dalam perspektif ini: Symbolic Interaction Theory; Identity Theory.
Metode Penelitian dalam Psikologi Sosial
  1. Observasi Sistematis, yaitu  mengamati secara hati-hati perilaku yang ada dilengkapi dengan pengukuran yang akurat dan teliti. Ada 2 teknik dalam observasi sitematis, yaitu: a) observasi alamiah (naturalistic observation), yaitu observasi terhadap perilaku dalam situasi alami (Linden, 2000). Dalam teknik ini, peneliti tidak boleh mempengaruhi orang yang diteliti, sehingga peneliti berupaya agar orang-orang yang diamatinya tidak memperhatikan keberadaan peneliti. Contoh: penelitian Brandon mengenai pengaruh suhu udara terhadap perilaku membunyikan klakson. Brandoon mengamatinya dengan bersembunyi di balik semak-semak dan menghitung bunyi klakson beberapa detik setelah lampu hijau menyala. b) Metode survey, yaitu metode penelitian di mana peneliti meminta sejumlah besar partisipan untuk merespon pertanyaan-pertanyaan tentang sikap atau perilaku mereka. Metode ini digunakan untuk mengukur sikap mengenai isu-isu social.Syarat survey: orang-orang yang berpartisipasi harus mewakili populasi yang lebih besar; pertanyaan-pertanyaan disusun ke dalam kalimat akan berpengaruh pada hasil yang didapat. Metode ini berguna untuk mempelajari aspek-aspek dari perilaku social, namun hasil yang diperoleh baru bisa akurat bila isu mengenai sampling dan perumusan pertanyaan diperhatikan secara hati-hati.
  2. Metode Korelasi, yaitu peneliti mencoba untuk menentukan apakah, dan seberapa jauh, variable-variabel yang berbeda berhubungan satu sama lain dengan mengadakan observasi yang hati-hati terhadap masing-masing variable, kemudian melaksanakan uji statistic yang tepat untuk menentukan apakah dan seberapa jauh variable-variabel tersebut berkorelasi. Metode ini dapat digunakan dalam berbagai situasi natural dan seringkali sangat efisien (sejumlah informasi dapat diperoleh dalam waktu yang relative singkat). Namun, hal tersebut tidak dapat dijadikan hubungan sebab-akibat yang merupakan kelemahan metode ini.
  3. Metode eksperimen, yaitu sebuah metode di mana satu factor atau lebih (variable bebas) diubah secara sistematis untuk menentukan apakah suatu variable mempengaruhi satu atau lebih factor yang lain (variable terikat). Contoh: penelitian mengenai pengaruh jabat tangan terhadap persepsi orang lain mengenai orang yang diajak berjabat tangan tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Dwi Nurul Istiqomah Template by Ipietoon Cute Blog Design